Pasukan Khalifah Abu Bakar pada Masa Perang Riddah




Khalifah Abu Bakar dalam perang Ridda membentuk pasukan yang terbagi atas sebelas infantri. Pimpinan pasukan, tujuan dan tugas masing-masing infantri sebagaimana tercantum dalam sejarah Aṭ-Tabarī: Khālid bin Walīd menghadapi Ṭulaihah bin Khuwailid dan Malik bin Nuwairah, kemudian diarahkan menghadapi pasukan Musailimah. Ikrimah bin Abi Jahl menghadapi Musailimah. Muhajir bin Abi Umayyah menghadapi pasukan Aswad Al-Ansi dan penduduk Yaman, Kindah, serta Hadramaut. Khālid bin Sa’īd bin Al-‘aṣ menuju Syam. Amru bin Aṣ menuju kelompok Quda’ah, Wadi’ah, dan Al-Hariṡ. Hudzaifah bin Mihṣan Al-Gilfani menuju Oman. ‘Arfajah bin Harṡamah menuju Mahrah. Syurahbil bin Hasanah diutus untuk membantu pasukan Ikrimah menghadapi Musailimah serta pasukan Amru bin Aṣ di Quda’ah. Ṭuriafah bin Hajiz menghadapi penduduk suku Salim di Hawazin. Suwaid bin Muqarrin menuju Tihamaah Yaman. Al-‘Ala bin Hadrami menuju Bahrain.

Atlas Jazirah Arab Masa Perang Riddah

Literatur Islam tidak banyak membahas mengenai latar belakang suku setiap pimpinan pasukan Khalifah Abu Bakar. Catatan detail mengenai dominasi suku Quraisy dalam pasukan perang khalifah hanya ditemukan pada sejarah Al-Ya’qūbī dalam peristiwa di daerah Żul-Qiṣṣah. Al-Ya’qūbī mencatat, kaum anshar mempertanyakan keputusan Khalifah Abu Bakar mendiskreditkan peran penduduk Madinah. Ṡabit bin Qais dikutip langsung oleh Al-Ya’qūbī menyatakan bahwa kaum anshar juga berhak dan mampu untuk menjadi pemimpin pasukan dalam perang Ridda. Jawaban Khalifah Abu Bakar hanya dengan mengangkat Ṡabit bin Qais sebagai pemimpin pasukan kaum anshar di bawah pimpinan umum Khālid bin Walīd.  Mayoritas literatur sejarah Islam pada pembahasan mengenai peristiwa di Żul-Qiṣṡah hanya menitikberatkan pada himbauan Ali bin Abi Thalib kepada Khalifah Abu Bakar untuk menetap di Madinah, tanpa membahas mengenai kecemburuan sosial kaum anshar. Sejarah Tabarī dan Khalifat turut mencatat penunjukkan Ṡabitbin Qais di Dzul-Qasshah tanpa mencantumkan masalah intervensi kaum anshar. Al-Balāżuri menulis penunjukkan Ṡabit bin Qais sebagai pemimpin pasukan anṣar dalam perang menghadapi Ṭulaihah serta Musailimah, di bawah pimpinan umum Khālid bin Walīd. Ibn Aṡīr dan Ibn Kaṡīr mencatat penunjukkan Ṡabit bin Qais hanya dalam perang di Yamamah.

Menindaklanjuti catatan sejarah Ya’qūbī, silsilah garis keturunan para pemimpin pasukan Khalifah Abu Bakar sebagaimana tercatat dalam catatan sejarah:
  1. Khālid bin Walīd bin Mugīrah bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Makhzūm Al-Qurasyi Al-Makhzūmi.
  2. Ikrimah bin Abi Jahl, nama Abu Jahal adalah‘Amru bin Hisyām bin Al-Mughīrah bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Makhzūm Al-Qurasyi Al-Makhzūmi.
  3. Muhajir bin Abi Umayyah bin Mughīrah Al-Qurasyi Al-Makhzūmi.
  4. Khālid bin Sa’īd bin Al-‘Āsh bin Umayah bin Abd Syams bin Abdi Manāf bin QuṣayAl-Qurasyi Al-Umawi.
  5. Amru bin Āsh bin Wā’il bin Hāsyim bin Sa’īd bin Sahm bin ‘Amrū bin Huṣaiṣ bin Ka’ab bin Luay Al-Qurasyi As-Sahmi.
  6. ‘Arfajah bin Harṡamah bin Abdul ‘Uzza bin Zuhair bin Ṡa’labah bin ‘Amrū.
  7. Syurahbil bin ‘Abdullah bin Muṭa’ bin Abdullah bin Gaṭrif bin Abdul ‘Uzza bin Jaṭamah bin Malik bin Malazim bin Malik bin Ruhm bin Sa’ad bin Yaskur bin Mubasyir Al-Gauṡ bin Murra.  Nasab Hasanah berasal dari nama ibu Syurahbil.
  8. Suwaid bin Muqarrin bin Aiż bin Mīja bin Husair bin Nasri bin Hubsyiah bin Ka’ab bin Ṡaur bin Huḍmah bin Laṭim bin ‘Uṡman bin Amru bin Ud Al-Muzaini.
  9. Al-‘Ala bin Abdullah bin ‘Ibad bin Akbar bin Rabi’ah bin Malik bin Akbar bin ‘Uwaif bin Malik binAl-Khazraj bin Ubay binAs-Ṣaḍif.
  10. Hudżifah bin Mihshan Al-Gilfāni dan Ṭuraifah bin Hajiz tidak ditemukan catatan silsilahnya.  Catatan mengenai Hużaifah dan Ṭuraifah hanya berkisar pada perannya dalam perang Ridda.
Berdasarkan hubungan garis keturunan, para pemimpin pasukan Khalifah Abu Bakar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
  1. Khālid bin Walīd (1) Ikrimah (2) dan Muhajir (3)merupakan garis keturunan Al-Mugīrah bin Abdullah dari suku Makhzum, kemudian bertemu Khālid bin Sa’īd (4) dari suku Abd Manaf pada garis keturunan Ka’ab bin Luay, termasuk Amru bin Aṡ (5) dari suku Sahm. Kabilah Ka’ab bin Luay termasuk golongan suku Quraisy kota Makkah.
  2. Suwaid bin Amru (1) dari suku Muzainah berasal dari garis keturunan Amr bin Ud bin Ṭabikhah.  Nasab yang sama pada Syurahbil (2) dari suku Al-Gawṡ, keturunanAl-Gauwṡ bin Murra bin Ud bin Ṭabikhah.
  3. Arfajah berasal dari suku Bariq keturunan ‘Adi Ibn Hariṡah bin Muziqiya, bagian dari suku Amr.
  4. ‘Ala bin Hadrami dari suku Iyad, keturunan Ṣaḍif bin Aslam bin Zaid bin Malik bin Zaid bin Hadramaut.
  5. unclassificated
Klasifikasi di atas menunjukkan diskriminasi terhadap suku Aus dan Kharaj selaku suku asli penduduk Madinah. Seluruh pimpinan perang yang dibentuk oleh Khalifah Abu Bakar diserahkan kepada kaum muhajirin, kaum imigran di Madinah. Secara khusus, suku Quraisy mendominasi susunan pimpinan sebelas pasukan tersebut. Dalam perang menghadapi tokoh oposisi yang menonjol dalam sejarah seperti Musailimah, Ṭulaihah, Malik, dan Aswad, Khalifah Abu Bakar lebih mempercayakan pasukannya kepada Khālid bin Walīd, Ikrimah, serta Muhajir yang merupakan keturunan suku Quraisy.

Khalifah Abu Bakar mengawali serangan dalam Perang Ridda dengan meminta bantuan Adi bin Hatim untuk membantu Khālid bin Walīd menghadapi Ṭulaihah bin Khuwailid. Adi bin Hatim merupakan keturunan suku Tayyi, salah satu suku aliansi pendukung Ṭualaihah. Haekal dalam biografi Abu Bakar-nya menyebut hal ini sebagai “Politik Abu Bakar untuk mencerai-beraikan suku Tayyi dan sekutunya”.  Dalam beberapa catatan sejarah lain, pasukan khalifah turut mendapatkan bantuan pasukan dari daerah sekitar pusat pihak oposisi. Pasukan ini disebutkan secara terpisah dalam literatur sejarah Islam, antara lain:
  1. Pasukan Adi bin Hatim dari suku Tayyi dalam peperangan menghadapi Ṭulaihah. Adi bin Hatim salah satu keturunan suku Tayyi dari suku Al-Gawṡ.  Suku Tayyi merupakan salah satu aliansi suku pendukung Ṭulaihah bin Khuwailid.
  2. Pasukan Fairuz Ad-Dilami terhadap perlawanan Qais di Yaman. Fairuz, Dadzweh, serta Qais merupakan loyalis Aswad Al-Ansi. Pasca kematian Aswad, terjadi perpecahan yang menyebabkan Fairuz berpihak kepada Khalifah Abu Bakar.
  3. Pasukan Syikhrit menghadapi pasukan Mushabbah di Mahrah. Syikhrit merupakan pimpinan pasukan oposisi Oman yang terbagi menjadi dua, salah satunya dipimpin oleh Muṣabbah dari suku Muharrab.
  4. Pasukan Jafar dan Abbad bin Al-Jalandi di Oman. Ja’far dan Abbad bin Al-Jalandi bin Al-Mustakbir merupakan anak dari Al-Jalandi, penguasa Oman yang menyatakan tunduk pada Madinah di masa Nabi Muhammad.
  5. Muja’ah bin Murrarah dalam peperangan menghadapi Musailimah. Muja’ah bin Murrarah salah satu keturunan  suku Hanīfah di Yamamah,   suku yang sama dengan Musailimah. Pada awalnya Muja’ah adalah tawanan perang Khālid bin Walīd, kemudian ia menjadi negosiator antara pasukan Khālid dan suku Yamamah.
Pasukan bantuan yang didapat oleh Khalifah Abu Bakar berasal dari suku di daerah konflik, baik sebagai utusan yang ditempatkan sejak masa Nabi Muhammad, atau dari pihak oposisi yang kemudian berpihak kepada khalifah. Hal ini mengakibatkan perpecahan di pihak oposisi sehingga memaksa suku-suku oposisi turut menghadapi perang saudara.

Sekutu yang berpihak kepada Kekhalifahan Abu Bakar di sisi lain merupakan pihak minoritas dari suku-suku oposisi. Suku Tayi hanya bagian dari aliansi bersama suku Gatafan dan Asad, Jafar dan Abbad pada awalnya sempat dikalahkan oleh pihak oposisi di Oman, Syikrit hanya memegang pasukan minoritas dibanding Al-Muharrab, sementara Muja’ah merupakan tawanan perang Khālid bin Walīd.

Secara garis besar, pasukan Khalifah Abu Bakar pada perang Ridda dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian besar:
  • Pasukan utama; dikirim secara terpisah dan terbentuk dari jajaran aliansi pendukung Khalifah Abu Bakar di Madinah. Nama-nama pimpinan pasukan didominasi oleh suku Quraisy dan kaum muhajirin pada umumnya.
  • Pasukan bantuan; terbentuk dari kalangan minoritas pihak oposisi karena dampak dari perpecahan suku maupun aliasi suku di masing-masing daerah konflik.

Referensi
Al-Balāżuri, Abu ‘Abbās Ahmad bin Yahyā bin Jābir. Futūh Buldān. Beirut: Mu’assasah al-Ma’ān, 1987
Abu al-Hajjāj, Jamāludīn. Tahżību al-Kamāl fi Asma’ ar-Rijāl. Bagdad: Mu’asasah ar-Risālah, 1975
Haekal, Muhammad Husain. Abu Bakar As-Shidiq. terj. Ali Audah. Jakarta: Pustaka Utera AntarNusa, 2003
Ibn Aṡīr, ‘Izza ad-dīn Abu Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Jazari. Asad al-Gāyah fi Ma’rifat aṣ-Ṣahābah. Beirut: Dār ibn Hāzim, 2012
Ibn Kaṡīr, ‘Imadudīn Abu al-Fadā’ Ismā’īl ibn ‘Umar. al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Hajr, 1998
Ibn Khayāṭ, Khalīfat. Tārikh Khalīfat bin Khayāṭ. Riyadh: Dār aṭ-Ṭaiba, 1975
Riḍā , ‘Umar. Mu’jam Qabāil al-‘Arab. Beirut: al-Resalah, 1997
Aṭ-Ṭabarī, Abu Ja’far Muhammad bin Jarīr. Tārīkh at-Tabarī. Riyadh: Bait al-Afkār ad-Dauliah
Al-Ya’qūbī, Ahmad bin Abu Ya’qub bin Ja’far bin Wahab ibn Wāḍih. Tārīkh al-Ya’qūbī. Beirut: Alaalami, 2010

0 comment(s):

Post a Comment