Dampak Perang Riddah terhadap Daerah Konflik




Keadaan tokoh oposisi dan daerah konflik pada saat, dan pasca Perang Ridda sebagaimana yang tertera dalam literatur Islam diklasifikasikan berdasarkan letak geografis adalah:
  • Buzakhah: berada di bagian utara kota Madinah, pusat suku Asad, Tayyi dan Gaṭafan. Dua tokoh oposisi di daerah ini yang dicatat sejarah adalah (1) Ṭulaihah bin Khuwailid melarikan diri ke Syam, (2) Uyainah bin Hiṣan dikirim ke Madinah dan mendapat Amnesti dari khalifah, (3) Hibal, saudara Ṭulaihah dibunuh oleh pasukan Ukasyah bin Mihsan dan Ṡabit bin Ahkam, serta (4) Ummu Zilm, terbunuh oleh pasukan Khālid bin Walīd.
  • Buthah: Pusat suku Yarbu dan suku Tamīm, domisili Malik bin Nuwairah. Tokoh oposisi di daerah ini adalah (1) Malik Nuwairah pemimpin suku Yarbu, tewas oleh Khālid bin Walīd. Saudara Malik, (2) Mutammin bin Nuwairah, mendapat amnesti dari Khalifah Abu Bakar di Madinah.
  • Yamamah: Peristiwa Yamamah mendapat perhatian lebih dalam literatur sejarah, yang merupakan pusat dari suku Hanīfah pengusung Musailimah bin Habīb. Ya’qūbī hanya menulis Musaillimah sebagai tokoh oposisi. Ibn Kaṡīr dalam sejarahnya secara berurutan menulis (1) pemimpin suku Hanīfah, Muhakkam bin Aṭ-Ṭufail, (2) Ar-Rajal bin Anfawah serta (3) Musailimah terbunuh oleh pasukan khalifah di bawah pimpinan Khālid bin Walīd.
  • Bahrain: terletak di sebelah selatan Semenanjung Arab, pusat suku Abdul Qais. Tokoh oposisi yang disebutkan sejarah di daerah ini adalah Mundzir bin Nu’man bin Mundzir. Ibnu Kaṡīr mencatat Mundzir kemudian tunduk pada Kekhalifahahan Abu Bakar, tanpa keterangan lebih lanjut.
  • Oman: Terletak di ujung utara Semenanjung Arab, berpusat di kota Daba. Pihak oposisi khalifah dari Oman, Laqit bin Malik Al-Azdawi terbunuh oleh pasukan Hużaifah dan Arfajah.
  • Mahrah: Pihak oposisi di Mahrah berasal dari suku Muharrib, Al-Muṣabbah. Ia terbunuh dalam peperangan menghadapi aliansi Ikrimah dan pihak oposisi lainnya, Syikhrit. Ia kemudian di kirim ke Madinah dan mendapat amnesti oleh khalifah.
  • Yaman: Pusat Aswad Al-Ansi dalam literatur Islam dicatat telah terbunuh pada masa Nabi Muhammad. Pihak oposisi selanjutnya (1) Qais bin Makhsuh dan (2) Amru bin Ma’di ditawan, dan seperti tawanan lainnya, mereka mendapat amnesti dari khalifah.

Dampak perang Ridda menyebabkan suku-suku oposisi seperti suku Gaṭafan, Tayi, Asad, Hanīfah, Yarbu, Muharrib, dan penduduk Yaman kehilangan tokoh sentral. Penguasa lokal yang menjadi korban perang Ridda di antaranya adalah tokoh sentral suku Hanīfah seperti Musailimah dan Muhakkam, Malik bin Nuwairah pemimpin suku Yarbu, Laqit di Oman, serta Al-Mushabbah pemimpin suku Muharrib di Mahrah.

Tokoh oposisi yang selamat dari Perang Ridda mendapat amnesti langsung dari khalifah. Pihak yang mendapat amnesti sebagian besar hanya “orang kedua” dan bukan merupakan tokoh sentral dalam perang Ridda, atau dapat dikatakan tidak lagi memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan Kekhalifahan Abu Bakar. Pihak oposisi ini antara lain Uyainah yang merupakan bagian dari pasukan Ṭulaihah, Syikrit bagian dari pihak Al-Musabbah, Mutammim saudara Malik bin Nuwairah, serta Mundzir dan Qais yang tidak mendapat dukungan penuh dari penduduknya.

Pasca perang Ridda, Khalifah Abu Bakar kemudian menunjuk gubernur di setiap wilayah sebagai wakil kekhalifahannya. Merujuk pada biografi Abu Bakar karya Muhammad Ridha, gubernur Khalifah Abu Bakar antara lain:
  1. Attab bin Asiddi Makkah, salah satu keturunan suku Quraisy.
  2. Uṡman bin Abi Al-Aṣ di Taif, keturunan suku Ṡaqif yang menetap di Ta’if sejak masa Nabi Muhammad.
  3. Al-Muhajir bin Abi Umayah di Shan’a.  Salah satu pemimpin pasukan khalifah dari suku Quraisy pada masa perang Ridda.
  4. Ziyad bin Labid Al-Anṣari di Hadramaut, menjabat sebagai gubernur Hadramaut pada masa Nabi Muhammad, keturunan suku Khazraj.
  5. Ya’la bin Abi Umayah di Khulan, menjabat gubernur Yaman hingga masa ‘Umar bin Khaṭāb, khalifah setelah Abu Bakar.
  6. Abu Musa Al-Asy’ari di Zabid, termasuk salah satu utusan di Yaman sejak masa Nabi Muhammad.
  7. Mu’aż bin Jabal di Janad, keturunan suku Khazraj Anshar. Muadz bertempat di Yaman sejak masa Nabi Muhammad.
  8. ‘Alaudin Al-Hadrami di Bahrain, salah satu pemimpin pasukan perang Khalifah Abu Bakar yang di tugaskan ke Bahrain.
  9. Jarir bin Abdullah di Najran, disebutkan berasal dari Yaman sejak masa Nabi Muhammad.
  10. Abdullah bin Ṡaub di Jurasy, salah satu utusan Nabi Muhammad di Yaman yang berkonfrontasi langsung dengan Aswad Al-Ansi.
  11. ‘Iyad bin Ganm di Dumatul Jandal, ia kemudian menjabat gubernur Syam setelah wafatnya Abu Ubaidah.
  12. Abu Ubaidah bin Jarrah di Syam, salah satu keturunan Quraisy yang di utus Nabi Muhammad ke daerah Syam.
Khalifah Abu Bakar mempertahankan mayoritas gubernur yang telah ditunjuk sejak masa Nabi Muhammad, khususnya di daerah Yaman. Nama-nama seperti Utsman, Ziyad, Abu Musa, Mu’adz, Jarir, Abdullah, Iyad serta Abu Ubaidah merupakan utusan Nabi Muhammad di masing-masing daerah. Khalifah Abu Bakar hanya mengutus Alaudin Al-Hadrami di Bahrain yang sebelumnya dikuasai oleh Mundzir bin Nu’man, Muhajir bin Abi Umayah di Shan’a yang dikuasai oleh Fairuz dalam perang Ridda, serta menambah Syurahbil, Amru bin Ash dan Yazid bin Abi Sufyan di daerah Syam. 

Khalifah Abu Bakar tidak memberikan kekuasaan penuh terhadap para penguasa lokal di beberapa daerah konflik. Alaudin ditunjuk untuk mendampingi Mundzir di Bahrain, sebagaimana Muhajir mendampingi Fairuz di daerah San’a. Syurahbil, Amru bin Ash serta Yazid diperbantukan ke daerah Syam yang merupakan daerah konflik antara Arab-Persia. Gubernur baru yang ditunjuk oleh khalifah mayoritas di isi oleh pimpinan pasukan khalifah dalam perang Ridda. Nama-nama di atas (sebagaimana tercatat dalam literatur sejarah Islam) kembali didominasi tokoh dari suku Quraisy, suku asal Khalifah Abu Bakar.




Referensi:
Ibn Aṡīr, ‘Izza ad-dīn Abu Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Jazari. Asad al-Gāyah fi Ma’rifat aṣ-Ṣahābah. Beirut: Dār ibn Hāzim, 2012
Ibn Aṡīr, al-Kāmil fi at-Tārikh, Beirut: Dār al-Kutub
Ibn Kaṡīr, ‘Imadudīn Abu al-Fadā’ Ismā’īl ibn ‘Umar. al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Hajr, 1998
Ibn Khayāṭ, Khalīfat. Tārikh Khalīfat bin Khayāṭ. Riyadh: Dār aṭ-Ṭaiba, 1975
Riḍā, Muhammad. Abū Bakr aṣ-Ṣidīq. Beirut: Dār al-Kutub, 1983
Al-Waqidi, Muhammad bin ‘Umar bin Wāqidi. Kitāb ar-Riddah. Beirut: Dār al-‘Arab al-Imlā’i, 1990
Al-Ya’qūbī, Ahmad bin Abu Ya’qub bin Ja’far bin Wahab ibn Wāḍih. Tārīkh al-Ya’qūbī. Beirut: Alaalami, 2010

0 comment(s):

Post a Comment