Konsep Kenabian Musailamah bin Habib



Musailimah bin Thumama bin Katsir bin Habīb Ibn Al-Hārist bin ‘Abdul Hārist bin ‘Ādi bin Hanīfah  juga dikenal dalam literatur Islam sebagai Musailimah Al-Każab. Musailimah berdomisili di Yamamah dengan basis pendukung dari Suku Hanīfah. Pada akhir tahun 10 H/631-632 M, Musailimah mencoba untuk membuka hubungan bilateral dengan Nabi Muhammad selaku pemimpin suku Quraisy. Surat yang dikirim oleh Musailimah dalam catatan At-Tabarī :

Min Musailimah rasūlillah ilā Muhammad rasūlillah
Salām ‘alayk, ‘amma ba’ad
Fa innī qad ushriktu fī‘Al-amri ma’aka
wa innā lanā nisf Al-ard, wa li Quraisy nisf Al-ard,
walākin Quraisyan qawm ya’tadūn

Sejarah Ya’qūbī mencatat surat Musailimah ditujukan secara personal dengan menggunakan kata ganti orang tunggal.  Ibn Kaṡīr menggunakan kata amr/ kekuasaan untuk menggantikan kata ard/ wilayah. 

Literatur Al Makin membagi konteks surat Musailimah ke dalam 3 bagian, pengirim, penerima, dan isi surat, dengan keyword: (1) utusan Tuhan (Rasululah), (2) wilayah, (3) kekuasaan dan (4) suku Quraisy. Poin-poin penting yang menjadi perhatian Al Makin adalah klaim tentang ke-rasul-an dan pembagian wilayah teritorial, yang menjelaskan pandangan Musailimah mengenai hubungan kenabian dan kekuasaannya dengan Nabi Muhammad. Poin penting selanjutnya adalah suku Quraisy yang dinilai Musailimah sebagai bagian penting dalam konsep kekuasaannya. Al Makin menilai konteks surat Musailimah menjelaskan evolusi konsep kenabian, kekuasaan dan suku Quraisy dalam pandangannya. 

Asumsi awal konsep kenabian Musailimah adalah seorang penguasa dan seorang pemimpin suku, yang mana dalam konteks ini melibatkan suku Hanīfah di Yamamah dan suku Quraisy di Madinah. Telaah pandangan Musailimah dapat diteliti dalam penggunaan (1) kata Al-amr dan (2) konsep pembagian wilayah (lanā nisf Al-ard, wa li Quraisy nisf Al-ard).

Kata al amr ditemukan pada awal kalimat yang diawali dengan kata kerja qadusriktu. Diterjemahkan secara bebas dapat bermakna partnership atau share dalam konteks kekuasaan (fi al amr). Menurut Kister, kalimat ini secara jelas menunjukkan Musailimah tidak pernah menolak kekuasaan Nabi Muhammad, tetapi menginginkan pengakuan yang sama atas dirinya. 

Bagian selanjutnya merupakan deklarasi pembagian wilayah (ard) atau dalam konteks Ibn Kaṡīr pembagian kekuasaan (amr), antara teritorial Yamamah dan Madinah. Eickelman dalam literaturnya menyatakan dengan pembagian ini menunjukkan kenabian Musailimah hanya terbatas pada ikatan suku dan kerabat. Ia menyimpulkan kenabian Musailimah dapat di artikan sebatas pada kepala suku (penguasa lokal), meskipun (dalam litertur klasik) lebih banyak ditekankan pada unsur agama.  Sejalan dengan Eickelman, Al-Makin berpendapat kenabian Musailimah hanya memiliki efek lokal, dengan pengikut terbatas pada teritorial tertentu. 

Pemetaan kesukuan oleh Musailimah dapat dilihat pada beberapa peristiwa lainnya. Mengutip dari literatur Eickelman, pada suatu kesempatan Musailimah berkata kepada para pengikutnya: 

"Our palms are shrivelled and our wells are dry.
Invoke God for our water and for our palms,
as did Muhammad for the people of Hazman."

Hal ini jelas mengindikasikan bahwa Musailimah memetakkan kenabian berdasarkan kelompok suku secara khusus, di mana Nabi Muhammad untuk penduduk Hazman sementara Musailimah sendiri nabi untuk suku Hanīfah. Dalam negosiasi antara suku Hanīfah dan Suku Yarbu, Musailimah kembali menawarkan pembagian kekuasaan. Tawaran Musailimah kepada Sajah seperti yang ditulis oleh Al-Maqrīzi: 

Lanā nisf al ard, wa kāna li Quraisy nisfuhā law ‘adalat
wa-qad raddallah 'alayki an-nisf aladzī raddat Quraiysy

Musailimah tidak menampik penolakan suku Quraisy terhadap tawaran pembagian kekuasaannya, tetapi selanjutnya Ia kembali menawarkan hal serupa dengan Sajah, pemimpin suku Yarbu. Aliansi Musailimah-Sajah menurut Eickelman bukan merupakan aliansi yang menguntungkan untuk pihak Musailimah,  tetapi di sisi lain aliansi ini merupakan satu-satunya jalan bagi Musailimah, karena menurut Kister, saat itu Ia disibukkan menghadapi pasukan Khalifah Abu Bakar. 

Terlepas dari kondisi Musailimah dalam rangkaian historis, pembagian kekuasaan yang diajukaannya menunjukan perspektif  kenabian Musailimah. Ia memandang nabi hanya sebagai pemimpin lokal seperti Nabi Muhammad untuk suku Quraisy, Sajah untuk suku Yarbu dan Musailimah sendiri untuk suku Hanīfah. Konsep ini berbeda dengan perspektif kenabian Muhammad yang mengusung universalitas Islam.  Perbedaan perspektif antara Musailimah dan Nabi Muhammad pada akhirnya menjelaskan posisi kenabian Musailimah. Nabi menurut Musailimah merupakan seorang pemimpin suku, pemuka agama, dan terbatas pada teritorial tertentu, yang berdiri secara independen tanpa adanya intervensi dari pihak luar.

Perspektif kenabian Musailimah mengindikasikan Perang Ridda yang melibatkan suku Quraisy dan suku Hanīfah pada khususnya- cenderung mengarah kepada manuver politik antar suku. Aliansi yang dibangun antara suku Hanīfah, suku Yarbu, suku Tamīm dan suku lainnya, merupakan reaksiatas supremasi suku Quraisy yang berkembang di Madinah. Khalifah Abu Bakar yang mengklaim diri sebagai wakil Nabi Muhammad, merasa berhak untuk mempertahankan universalitas dan unitas yang diusung Islam. Di lain sisi, pihak di luar Madinah memandang mobilisasi militer Khalifah Abu Bakar dan perkembangan Madinah sebagai ancaman terhadap konsistensi dan independensi para penguasa lokal di masing-masing suku dan wilayah teritorial.


Referensi
Eickelman, Dale F. Musaylimah: an Anthropological Appraisal, Thesis McGill University, Canada, 1967
Ibn Kaṡīr, ‘Imadudīn Abu al-Fadā’ Ismā’īl ibn ‘Umar. al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Hajr, 1998
Kister, M.J. The Struggle Against Musaylima and The Conquest of Yamama. The Hebrew University, Jerussalem
Al Makin. Representing The Enemy. Frankfurt am Main: Peter Lang, 2010
Al-Maqrīzī, Taqiyudīn Ahmad bin ‘Ali bin ‘Abdul Qādir bin Muhammad. Imtā’ al-Asmā’. Beirut: Dār al-Kutub, 1999
Aṭ-Ṭabarī, Abu Ja’far Muhammad bin Jarīr. Tārīkh at-Tabarī. Riyadh: Bait al-Afkār ad-Dauliah
Al-Ya’qūbī, Ahmad bin Abu Ya’qub bin Ja’far bin Wahab ibn Wāḍih. Tārīkh al-Ya’qūbī. Beirut: Alaalami, 2010

0 comment(s):

Post a Comment